Dolan Ke Yogyakarta

     Sebelum saya menceritakan perjalanan dolan ke Jogja ada baiknya akan menjelaskan kronologi bisanya ke Jogja. Sebenarnya penulis sendiri kuliah di Jogja selama 5 1/2 tahun, dan itu tidak bisa dikatakan dolan ke Jogja, karena itu kuliah dengan niatan pariwisata, beda dengan dolan.

       Kronologi bisanya orang yang pernah hidup di Jogja terus dolan ke Jogja itu seperti ini. Setelah balik ke kampung halaman beberapa minggu, beberapa teman smp mengajak dolan Jogja. Setelah saya tanya-tanya kenapa ke Jogja, ealah karena belum pernah kesana, berhubung saya memiliki rasa tidak tegaan dengan teman sendiri saya iya tapi sebelum iya saya tanya, biaya ya berapa 500 k, ok saya tidak bisa. Pertama saya sudah lama di Jogja dengan estimasi biaya segede itu dan bertemu Jogja lagi hmmm, kedua masih menjadi pengacara (pengangguran banyak acara) jadi untuk uang masih nebeng dengan orang tua. Akhirnya saya tolak halus dengan alasan urusan keluarga, akhrinya h- berapa dihubungi teman smp lagi katanya tidak usah ikut nyumbang biaya transport, dan teman smp minta tolong sangat untuk akses jalan wisata Jogja dan akses tidur di kontrakan teman akhirnya saya iyakan.

         Perjalan malam pada hari 14 april 2017  Jum’at dari Gresik menggunakan Mobile xenia plat L pukul 22.00 dengan kecepatan kilat sampai di magelang tepatnya di Gunung Pring hari 15 april 2017 sabtu pukul 04.00. Sebenarnya sampai di Gunung Pring kara inisitif dari penulis sendiri karena candi Borodubur eh candi Borobudur belum buka, jadi di Gunung Pring untuk transit capek. Niatnya tidak transit kesana tapi ke Puthuk Stumbu, akan tetapi akses kesana dengan menggunakan mobil bisa, cuman perjalanan sampai ke puncak dengan jalan kaki. Akhirnya ngeper juga dan ke Gunung Pring, sekalian ziarah sampai disana dan rame tidak jadi ziarah hanya makan, tidur.

        Setelah melepas lelah beberapa jam, berangkat lagi ke Borobudur dan sampai disana pukul 08.00. Membeli tiket masuk sebesar 30 k perkepala, masuk ke Borobudur dengan berjalan kaki dengan bentang luas hektaran. Setelah memasuki kawasan candi, akhirnya di sepekati untuk memutari 1 kali setelah itu naik level ke berikutnya. Putaran pertama paling bawah masih kuat, setelah naik ke level ke 2, di sepekati untuk menghitung patung perempuan yang masih ada pentilnya (puting payudara) bukan bermaksud penulis mesum atau gimana karena sangat efektif untuk melupakan lelah. Setelah disepekati akhirnya berjalan dan mendapatkan 29 pentil pada patung perempuan di level 2, untuk tenaga lumayan capek. Naik ke level 3 kesepakatan untuk menghitung gajah, setelah satu putaran di temukan dengan jumlah 29 gajah, di situ penulis agak bingung kok bisa-bisanya sama, akhirnya lupa sambil lalu saja, untuk tenaga sudah berkeringat deras. Naik ke level 4 beberapa teman sudah sambat tidak kuat untuk berputar lagi, apalagi dengan volume pengunjung banyak dengan wilayah putaran semakin sempit, diputuskan untuk langsung saja ke level paling tinggi entah itu level berapa penulis tidak menghitung dan untuk apa menghitung.

       Sampai di puncak level, banyak bule dan kimcil berserakan dimana-mana. Berputar-putar di emperan, akhirnya berhenti sebentar untuk sendekan dengan asosiasi tempatnya banyak kimcil dan tante-tante manis atas inisitif teman smp. Melihat beberapa view lumayan indah entah pemandangan atau manusia, setelah itu turun dan berjalan ke Mobil. Belum sampai di Mobil tetapi di tempat pembelajaan Borobudur, salah satu teman smp banyak titipan sehingga lama disana. Ingat di rumah tidak ada ulegkan yang besaar akhirnya beli ulegkan (cowek bukan cewek ya) di situ perdebatan atau enyang-enyangan dari harga 45 sampai menjadi 25. Di situ saya tidak enak hati, karena teman saya mengatakan harga 20 itu sudah dapat, tetapi karena tidak enak hati akhirnya dapat dengan harga 25, sepertinya penulis tidak bakat untuk mengenyang. Di perjalanan saya di paido sama teman-teman karena dengan membeli cowek dengan harga 25. Teman-teman sendiri sudah mendapatkan apa yang di inginkan, kurang satu yaitu salak. Sampai ke mobil berjalan lagi mencari salak di pinggir-pinggir jalan, mendapatkan tempat pertama sudah mencoba beberapa salah dan enyan-enyangan tidak cocok dengan harganya penulis sendiri sudah lupa berapa selisihnya yang pasti tidak lebih 10k. Cari tempat yang lainya di tempat kedua, banyak variasi toko sehingga bisa kemungkinan untuk harga yang cocok.

              Setelah mendapat valak eh salak pondoh 10 kg, salah satu teman ingin salah 1 kg, akhirnya mendapatkan dan lanjut ke taman sari sampai di tempatnya siang hari. Di taman sari berputar-putar mencari tempat spot foto, di Taman Sari juga berserakan kimcil dan tante-tante, biaya masuk 10k kurang perkepala. Selama 5 1/2 tahun di Jogja tidak pernah masuk ke taman sari dan baru pertama kali. Baru tau dari mak-mak angkringan bahwa luas Taman Sari 10 hektar, rupanya wisata di Jogja tidak jauh-jauh dari jalan kaki dan olahraga.

            Skip akhirnya ke Malioboro, juga sama jalan kaki dari Masjid Gedhe ke statiun malioboro dan balik lagi ke parikiran mobil hingga salah satu teman kakinya lecet.

           Skip tidur ke kontrakan teman. Paginya langsung ke gunung kidul bermain di pantainya, berangkat pukul 03.15 dini hari sampai di sana setelah subuh, penulis tidak ikut jalan-jalan karena sudah ngantuk sangat, karena malamnya diajak ngopi hingga berangkat ke gunung kidul. Biaya masuk perkepala 10 k, parkir harga tergantung kebijakan tukang parkir. Bermain di dua pantai dan langsung cuss ke Gresik, balik siang hari sampai di Gresik 22.15. 9 jam perjalananlah baru sampai di Gresik.

Ada baiknya penulis memberikan tips untuk teman-teman apabila main ke Jogja.

  1. Sebelum berangkat sediakan dana.
  2. Sebisanya sampai di tempat wisata jangan di jam ramai, kalau bisa pagi hari kalau tidak malam sekalian, dan kalau bisa jangan week end panjang.
  3. Sediakan sempak yang banyak
  4. Gunakan sepatu, karena kebanyakan wisata di Jogja berjalan kaki, jadi kalau menggunakan sandal kemungkinan lecet.
  5. Bawa satu botol air mineral apabila sampai di tempat wisata, selain irit biaya juga untuk mencari air minum di tempat-tempat candi agak susah.

6. Sebisanya bawa banyak orang dan beberapa teman perempuan.

Sarjana di Yogyakarta

      Mungkin agak menarik untuk membahas tentang para Sarjana di Yogyakarta, kenapa penulis membahas tentang Sarjan di Yogyakarta? Karena penulis salah satu Sarjana di Yogyakarta, apabila banyak orang mengatakan Yogyakarta adalah tempat para pelajar ada benarnya pernyataan tersebut. Karena menurut penulis sendiri yang sudah pernah hidup sebagai mahasiswa di Yogyakarta selama enam tahun menempuh study S1, yogyakarta adalah batu loncatan untuk lebih memahami tentang ilmu pengatahuan, keanap begitu? Karena di Yogyakarta banyak kampus degan variasi Manusia dari seluruh Indonesia dari suku jawa, hingga suku lain-lainya. Oleh karena itu banyak mengatakan Yogyakarta ialah Indonesia kecil.

     Berbagai aktivitas dari bedah buku, buku indie, music indie, dan kenyataan bahwa penerbit paling banyak terletak di Yogyakarta yang membuat banyak event tentang buku. Sehingga secara sadar atau tidak sadar mahasiswa di Yogyakarta jadi lebih mengenal tentang buku, dari buku paling Kiri hingga buku paling Kanan lengkap di Yogyakarta. Walaupun begitu kenyataanya sekarang di kota Yogyakarta banyak macet di jalan-jalan kota tetapi tidak mengurangi kenikmatan suasana Yogyakarta.

     Setiap tahun datang para maba (Mahasiswa Baru) di Yogyakarta mungkin akan terheran-heran tentang makanan-makanan di Yogyakarta, karena makanan di Yogyakarta identik dengan kata ‘Manis’ sehingga penulis sendiri dari Jawa Timur ada penyesuaian lidah ketika masuk pertama kali di Yogyakarta. Munngkin ketika membaca ini pembaca akan bertanya kampus id Yogyakarta yang bagus apa aja? Menurut penulis sendiri sebenarnya hanya ada dua kampus di Yogyakarta yang menurut penulis sendiri yaitu, UGM (Universitas Gajah Mada) dan UII (Universitas Islam Indonesia) walaupun penulis tidak dari dua kampus tersebut.

     Penulis sudah merangkum baik dan buruk ya Yogyakarta seperti di bawah ini. Dari segi pendidikan Yogyakarta sangat baik sebagai batu loncatan untuk memperoleh ilmu pengetahuan, apabila dari segi penghidupan di  Yogyakarta mungkin agak tidak memuaskan karena UMR yang sedikit dengan mahalya harga tanah di daerah kota yang strategis. Tapi bagi kalian yang memiliki modal berlebih tidak masalah karena Yogyakarta memiliki peluang investasi sangat tinggi, karena tanah di dekat-dekat kampus tiap tahun harganya naik. Tetapi tidak dipungkiri adanya resiko dari gunung Merapi yang tiap waktu dapat meletus.

     Walapun begitu voleme pendatang dan modal setiap tahun meningkat di Yogyakarta, sehingga secara tidak langsung menyebabkan bermuncul Hotel-hotel baru dan Mall-mall baru di Yogyakarta. Apalagi ditambah dengan renaca pembangunan bandara Internasional di Kulon Progo, akan meningkatkan pariwisata dan ekonomi di Yogyakarta. Isu agak sensitif ialah masalah agraria atau tanah di Yogyakarta. Penulis berharap pengembangan ekonomi berbanding lurus dengan budaya di Yogyakarta, sehingga untuk mahasiswa-mahasiswa baru masih bisa menikmati Yogyakarta yang penulis nikmat pada massa study.