Review Buku: Gelandangan di Kampung Sendiri

IMG-20170522-00064

Tulisan Cak Nun yang berjudul Gelandangan di Kampung Sendiri, memaparkan situasi sosial menyeluruh dan dirinkas secara epik melalui esai-esainya, ada yang menggunakan simbol-simbol dan beberapa lugas. Mungkin setelah membaca buku ini bisa menambah gagasan-gagasan baru tentang gelandangan daam arti luas.

Advertisements

Review Buku: Melawan Melalui Lelucon

IMG_20170418_082121

Buku ini berisi tentang kumpulan kolom Almarhum Abdurrahman Wahid di koran Tempo, yang di terbitkan pada tahun 1980-1999 dan dibedakan menurut temanya masing. Cetakan tahun 2000, apabila dikatakan relevan atau tidak untuk era sekarang menurut saya lumayan relevan apalagi kolom tersebut adalah kolom dari Guru Bangsa yaitu Gus Dur. Gaya penulisan yang memang khas Gus Dur, dengan guyonanya di awal tulisan dan diakhiri dengan keseriusan ide-ide menyelesaiakan masalah pada eranya. Juga terdapat kritikan-kiritikan membangun pada eranya, dengan suasana orba. Jadi apabila membaca tulisan pada kolom-kolom gusdur ini pembaca juga harus mengerti situasi pada saat tulisan itu di terbitkan, sehingga mungkin pembaca secara tidak langsung belajar sejarah pada buku ini. Untuk mencari buku ini agak susah, karena belum ada cetakan selanjutnya tetapi kawan-kawan bisa mencari di google saja mungkin ada yang menjualnya.

Rumah Makan Ilmu (2)

          Setelah habis dalam permasalahan pembentukan ada baiknya untuk mengolah permasalahan dalam lingkup sosial Rumah Makan Ilmu. Dalam berbagai tindakan perlu observasi lapangan terlebih dahulu beraksi. Setelah melihat observasi lapangan di Gresik walapun datanya data sekunder, tapi bisa melihat beberapa pola masarakat gresik.

          Apabila dilihat dari pendapatan utama masarakat gresik yaitu kerja pabrik atau buruh, walaupun masih ada beberapa wilayah yang pendapatan masarakat utamanya agrari. Tetapi yang sangat berpengaruh dalam masarakat Gresik yaitu Industri, kenapa menurut beberapa sumber tingkat pendatang di Gresik semakin bertambah ketika munculnya Industri baru di Gresik. Walaupun tidak dipungkiri pemegang kekuasaan di Gresik masih dipegang oleh warga asli Gresi, sehingga tidak dipungkiri ketika semakin banyak ya pembangunan perumahan di Gresik untuk menampung pendatang yang bekerja di Industri, ataupun semakin banyak kost-kostan. Dari dilema ini menimbulkan kebutuhan tanah untuk pembangunan rumah, atau bisa akan maraknya tempat penitipan anak dikarenakan kedua orang tua mereka bekerja.

                  Dari problema diatas dapat diketahui bahwa apabila untuk menghegemonikan minta pembaca kepada kaum buruh agak susah, dikarenakan waktu luang untuk membaca. Masarakat Gresik sendiri belum merasa prestis ketika membaca buku didepan umum, atau mungkin malah di ejek oleh teman-temanya. Prestis dalam membaca inilah yang perlu lebih di gali lagi di Gresik. Sebenarnya pertanyaan paling mendasar itu apa perlu buruh itu suka membaca buku, sehingga ada pemikiran untuk beralih tidak ke buru tetapi kepada siswa SMA di Gresik.

                  Siswa SMA Gresik memiliki rasa prestis ketika dia les (atau tempat kelompok belajar diluar sekolah) di beberapa tempat yang ber label. Walaupun pada kenyataanya tidak ada pengaruh dari les dan tidak les. Malah menurut saya les itu adalah dampak dari kemalasan orang tua mengajar anaknya sendiri, sehingga orang tua tidak mau susah-susah untuk membantu anaknya mengerjakan PR (pekerjaan rumah) dari sekolah. Sehingga secara tidak langsung pelajar di Gresik sama dengan Buruh di Gresik, ketika sama dengan problema waktu kenapa masih memilih Siswa SMA. Memilih siswa SMA karena menurut beberapa penelitian di mbh google, minat membaca mudah ditumbuhkan apabila tidak lebih dari 27 tahun.

                 Setelah itu apa langkah-langkah dalam membuat membaca buku itu Prestis, sebenarnya itu harus memerlukan pekerjaan sangat lama. Apabila ingin menjadikan Gresik sebagi kota membaca, masarakat harus lebih tau tentang Buku, sehingga secara tidak langsung perlu ada cara seperti bazar buku, atau bedah buku, atau diskusi sastra, atau penampilan teater, atau lomba esai, atau loma puisi intinya kegiatan-kegiatan yang reaksinya adalah membaca. Ketiak mengadakan acara-acara di susupi stan-stan buku yang judulnya menarik minat membaca atau minimal penasaran dan membeli.

Rumah Makan Ilmu

                Perlu adanya ruang untuk tempat ilmu, entah ilmu berbentuk dokumentasi, buku, atau segala hal yang berbentuk fisik. Segala hal dalam berbentuk fisik itu masuk kedalam ‘Rumah Makan Ilmu’, ada baiknya untuk menjelaskan manfaat dalam ‘Rumah Makan Ilmu’ ini beberapa hal yang dibutuhkan bahkan bahan untuk pembentukan ide tersedia di dalamnya. Dalam ‘Ruma Makan Ilmu’ ini tidak kiri dan tidak kanan dia berada di tengah semua ada di dalam. Asas kebersamaan yang menentukan keamanan data di dalamnya. Mungkin banyak tahap-tahap untuk mengumpulkan beberapa dokumentasi yang relevan dengan zamanya ataupun tentang sejarah. Sehingga hal yang paling utama dalam hal ini ialah Tempat atau Ruang untuk semua data ‘Rumah Makan Ilmu’. Kalau bisa ruang tersebut tidak dimiliki beberapa orang atau bahkan dititipkan di rumah orang. Mungkin bahasa kerenya yaitu secre. Mungkin dimulai dengan  beberapa orang dengan visi misi yang sama  yaa tapi itu gampanglah diatur untuk pembentukan visi.

           Tahap titik ini ialah tahap dimana untuk menjelaskan lagi siapa anggota yang dipilih apakah dari kalangan mahasiswa atau dari kalangan masarakat ummum, atau dari kalangan yang membutuhkan dokumen. Karena dari titik tolak ini berawal akan menentukan kedepanya. Kecenderungan untuk kaum intelektual lebih besar dalam anggota walaupun tidak semua mahasiswa intelektual. Seorang pekerja pun bisa intelektual apabila memiliki daya ingin tau yang sanga tinggi.

             Tahap kosong ini yang mungkin penting dan tidak penting yaitu tempat berkumpul, apabila tidak ada dana bisa dirumah orang, yang pasti tidak di tempat umum dikarenakan tidak kondusif, apalagi di tempat warung, mungkin dikarenakan penulis dari gresik yang identik dari warung sehingga bisa dikurangi.

          Mungkin secara efesien atau tahap pertama ialah pembuatan stempel untuk identitas Rumah Makan Ilmu. Dengan stempel akan muncul identitas setiap pergerakan, walaupun stempel itu baru digunakan untuk buku atau data dokumen. Dengan identitas yang sederhana ini mungkin akan tumbuh prestis dalam anggota ‘Rumah Makan Ilmu’.

               Tahap kedua pengumpulan dokumentasi (bisa buku, bisa makalah, bisa filem, dsb) setiap anggota dan persetujuan untuk di cap dan menjadi milik ‘Rumah Makan Ilmu’ dengan surat formal pernyataan tanda tangan.

             Tahap ketiga pembentukan mobilisasi buku di wilayah tertentu untuk mengenalkan ‘Rumah Makan Ilmu’ dan harus dengan membawa identitas walaupun dengan banner ataupun dengan hanya stempel. Tahap ini tidak boleh ada peminjaman karena rentan dengan kehilangan dokumentasi.

         Tahap ke empat apabila sudah melakukan mobilisasi buku, perlu adanya ruang diskusi tentang masalah yang relevan di wilayahnya. Diskusi ini bisa sebulan sekali dengan isi, sambutan yang bisa bergantian, pengantar yang akan menjelaskan apa isi diskusi dan narasumber,  bisa di beri waktu dengan kondisi, bisa di isi sastra tergantung kebutuhan dan masalah yang relevan di wilayah tersebut.

                Tahap kelima adalah pengarsipan dari semua kegiatan ‘Rumah Makan Ilmu’ untuk memperjelas dengan visi misi pertama. Sehingga ada hasil dari diskusi tersebut bisa dari rekaman video atau pun rekaman kesimpulan yang akan berguna kedepanya.

               Tahap keenam adalah dengan mengadakan iuran perbulan entah itu di setujui atau tidak di setujui terserah, dari iuran ini bisa digunakan untuk pembelikan dokumen atau untuk dana diskusi. Tahap iuran bisa diganti dengan pembayaran anggota dan hak-hak anggota apabila sudah resmi dan berbadan hukum.

Buku: Nyanyi Sunyi Seorang Bisu

img_20170117_160748_scaled

picture by google

Bagi kalian ingin mengetahui bagaimana hidup seorang Tapol di pulau buru dan beberapa kisahnya perseorangan ataupun kelompok, mungkin buku ini bisa menjelaskan secara objektif dan netral tanpa tendensi apapun. Mungkin agak berlebihan apabila di bilang netral. Tetapi tulisan non-fiksi dari saudara Pramoedya ini mungkin bisa menjadi pengantar untuk lebih mendalami situasi Indonesia pada saat itu.

Sebenarnya ada dua jilid buku, jilid pertama lebih menekankan keseharian para Tapol di pulau buru, dari awal datang ke pulau buru hingga pembebasan mereka. Sedangkan untuk jilid kedua lebih menekankan otobiografi dari Pramoedya. Yang menarik dari jilid pertama disana dijelaskan secara detail kondisi alam, kondisi ekonomi, kondisi sosial, dan kondisi mental para tapol. Di buku pertama juga dijelaskan cerita tentang penulisan tentralogi buku Pramoedya. Mungkin apabila teman-teman mencari buku ini agak susah dan sebaiknya teman-teman mencari di Internet saja, karena apabila di toko buku sudah susah untuk menemukannya.