Merayakan Kemerdekaan

                 Sudah sekian bulan penulis bel menulis di Blog ini, dikarenakan kesibukan setelah lulus kuliah. Kebetulan sekali bertepatan dengan agustus sehingga penulis menggunakan tema Kemerdekaan, sekalian untuk mempringati hari kemerdekaan Indonesia ke 72 tahun. Prolog yang tepat ketika menggunakan tema Kemerdekaan ialah, sekarang hitung umur mas-mas se dan mbk-mbk e sekaranag umur berapa? Setelah mengetahui umur mas-mas se dan mbk-mbk e dikurangi 72 tahun Indonesia merdeka.

                 Hasil dari hitungan tersebut adalah tahun terjadi proses kemerdekaan sebelum mas-mas dan mbk-mbk e. Sekarang bayangkan umur rata-rata seorang hidup itu berapa tahun, dan kurangi tahun yang di dapat dari hasil tadi. Setelah dapat itulah generasi Indonesai Merdeka. penulis sendiri setelah menghitung – hitung menggunakan prolog diatas, penulis adalah generasi belum genap ke 2, yang dimaksud belum genap ke- 2 ialah dikarenakan generasi pertama seluruhnya belum meninggal apabila menggunakan teori umur manusia hidup 62 tahun kalau masih hidup itu bonus.

                 Jadi secara negara Indonesia belum memasuki muda mungkin bisa dikatakan mungkin proses ke muda. Sehingga kematangan kebudayaan Indonesia belum sekuat negara-negara yang melewati beberapa generasi, sehingga kebudayaan lokal masih kuat di setiap wilayah. Mungkin pembaca agak bingung hubungan merayakan kemerdekaan dengan budaya lokal itu apa? Budaya adalah sesuatu yang bersifat dinamis dan menyesuaikan keadaan suatu masyarakat entah itu dipengaruhi mitos, UUD, kebijakan publik. Jadi produk kebudayaan kita untuk merayakan kemerdekaan Indonesia biasanya adalah mengadakan lomba-lomba di kampung, institusi -institusi, mengingat-mengingat kembali pahlawan yang berjasa memerdekakan Indonesia, dan pastinya mengibarkan bendera Indonesia untuk jasa Pahlawan- pahlawan yang mendahului kita sebelumnya.

                Apakah produk kebudayaan mengadakan lomba-lomba ialah produk dari negara atau produk budaya lokal yang menyesuaikan dan mengadaptasinya menjadi lomba-lomba. Yang pastinya semua kegiatan merupakan cara paling efektif dan membuat guyub rukun kampung, menumbuhkan Jiwa rivalitas dan daya juang tinggi menurut penulis. Ada baiknya generasi ke – 2 ini menggunakan daya juang, daya adaptasi, dan daya pikir untuk jangka panjang Negara Kesatuan Republik Indonesia ini, karena akan tibanya generasi pertama tidak ada dan akan melimpahkan ke generasi ke -2 sehingga perlu kiranya siap-siap untuk jangka panjangnya.

Karena menurut penulis membuat itu mudah tetapi mempertahankan itu susah, khususon kangge pahlawan NKRI Al-fatiha, Merdeka!!!

Advertisements

Sunyi

Gelombang waktu menerpa tubuh ini dengan membawa kenangan-kenangan lama yang terkadang mempercepat alunan kerja tubuh sehingga mengikis semangat hidup dan menciptakan Sunyi. Setiap mahluk akan menyadari bahwa Sunyi ialah bagian dari rasa yang terkadang akan membuat efek ketentraman atau kekacauan pikiran, tetapi akhir dari mahluk ialah Sunyi. Peran sunyi dalam hidup sudah menjadi setiap gerak langkah atau bisa tuliskan seperti ‘setiap mahluk hidup akan mati sendiri dan mengurus kehidupanya sendri’ penekanan sendiri ini yang memotivasi untuk selalu bergerak, terkadang di temani sepi sehingga menciptakan Sunyi. Walaupun begitu itu hanyalah sebuah momentum kehidupan yang seperti bola, tetapi itu puncak dari semua mahluk hidup.

Apabila orang tua dulu melewati sunyi untuk menggapai momentum Doa yang menyertai anak cucu ataupun bisa dikatakan keturunanya, ketika momentum itu tercapai kedamaian akan menyertai orang tua dulu, apabila dilihat dari orang moderen sekarang seperti hal yang ‘muspro’ (percuma). Mungkin orang modern momentum Doa bisa diganti dengan asuransi untuk anak-anak entah tentang pendidikan ataupun kesehatan yang ditebus oleh Uang atau Materi. Sedangakn orang tua dulu melalukan tarekat bukan dengan Materi, atau bisa dikatakan momentum Doa dengan berbagai metode.

Pernah diceritakan oleh orang tua-tua di kampung bahwa ketika seseorang dulu ini mengiginkan sesuatu seperti selama menikah tidak dikauniai anak, Orang Tua terdahulu akan melakukan tarekat atau berdoa terus menerus tanpa henti di tempat-tempat sunyi dan tenang untuk mendapatkan momentum Doa, sehingga Doa itu di ijabai. Sedangkan untuk orang modern akan ke klinik-klinik kelahiran menggunakan ilmu modern untuk menemukan solusi supaya memiliki keturunan. Mungkin menguasai intuisi adalah metode yang digunakan oleh orang terdahulu untuk mencapai harapan, sedangkan untuk orang modern akan menggunakan ilmu-ilmu terkini dan memiliki bukti nyata.

Tips Untuk Pengangguran Baru

Mungkin agak spele tema pengangguran ini, akan tetapi ketika terbiasa dengan aktivitas kampus dan keluar zona kampus dengan membawa gelar masing-masing terkadang ada beberapa orang bingung apa yang harus di lakukan. Karena penulis sendiri merasakan hal tersebut, kegiatan yang tidak menentu atau bahkan cuman kegiatan bangun, makan, ngopi, tidur, dst. Apabila tidak direncakan dengan baik kegiatan apa yang dilakukan prawisuda mungkin agak bingug setelah pascawisuda. Penulis memberikan dua istilah untuk pengangguran baru yaitu pertama pengangguran tidak direncakan dan kedua pengangguran direncanakan. Pengangguran tidak direncanakan ialah pengangguran yang tidak sadar bahwa dia adalah pengangguran karena dia menganggur tidak direncakan, bisa saja di PHK atau barusan wisuda dengan tanpa persiapan mau apa di isi masa pengangguran tersebut. Sedangkan untuk pengangguran direncakan memang sengaja untuk mengambil tindakan nganggur dan mengisi tindakan nganggur dengan kegiatan-kegiatan yang menyenangkan.

Sebelum masuk tahap berikutnya pembaca sebaiknya mengidentifikasi diri sendiri termasuk yang mana, pengangguran tidak direncanakan atau pengangguran direncakan. Sebelum lanjut keberikutnya penulis menekankan bahwa dalam kegiatan mengaggur tidak ada muatan moral bahkan nilai negatif atau positif, karena menganggur itu termasuk pilihan, dan dalam hidup pasti ada masa menganggur.

Tips pertama untuk pengangguran baru, yaitu tentukan orientasi hidup dan jalan hidup, tips pertama ini terkadang tidak bisa langsung jadi tapi memperlukan keluwesan berpikir dan perkembangan zaman untuk menentukan orientasi hidup. Penulis juga agak malas menjelaskan panjang lebar tentang orientasi cari sendiri di wikipedia ya.

Tips kedua untuk pengangguran baru, setelah menemukan orientasi hidup dan jalan hidup, buatlah CV (Curriculum Vitae) atau daftar riwayat hidup serahkan ke lembaga atau perusahaan yang sesuai dengan orientasi hidup dan jalan hidup pembaca.

Tips ketiga untuk pengangguran baru, apabila pembaca tidak suka dengan melamar di sebuah lembaga atau perusahaan, pembaca bisa membuat usaha sendiri bisa berupa UD (usaha dagang), CV (commanditaire vennootschap) bahkan PT (perseroan terbatas) itu untuk legalitas secara hukum, dengan bidang kerja macam-macam, untuk keuntungan dan cara pembuatan bisa tanya langsung ke mbah google.

Tips keempat untuk pengangguran baru, sadari posisi ekonomi keluarga besar anda, yang dimaskud posisi ekonomi yaitu ekonomi apa yang menopang keluarga besar pembaca, mungkin orang tua, saudara orang tua memiliki usaha dagang dan pembaca bisa membantu di dalamnya, tetapi sadari posisi pembaca di dalam keluarga dan presentase untuk meningkatkan usaha dagang tersebut.

Tips kelima untuk pengangguran baru, apabila kawan-kawan tidak memiliki opsi untuk berkerja, kawan-kawan bisa memanfaatkan fasilitas pemerintah seperti perpustakan daerah, atau ikut acara-acara yang sekiranya tidak mengeluarkan uang speserpun.

Semoga setelah membaca tips-tips diatas kawan-kawan memiliki tindakan untuk status sosial yang namanya pengangguran, atau hanya memiliki ide itu juga bagus, karena tidak mungkin dari satu tulisan bisa menyelesaikan masalah pengangguran di Indonesia.  Sebenarnya tulisan ini hanya sekedar gurauan jangan dimasukkan ke hati tapi kalau di lakukan tindakan juga bagus.

Skala Richter di dalam Tulisan

sebenarnya skala ritcher ialah isitilah yang digunakan untuk menghitung kekuatan gempa. Terkadang gempa di dunia matrial hanya berupa gesekan-gesekan dari kerak bumi, akan tetapi manusia belum meneliti tentang gesekan-gesekan kerak di dalam hati manusia, apabila di dunia matrial bisa asumsikan dengan hitungan angka yang mendekati kekuatan gempa bumi, akan tetpi gesekan-gesekan kerak di dalam hati manusia tidak bisa di asumsikan dengan hitungan-hitungan angka dan inilah kelemahan dari dunia matrial karena hati di dunia matrial tidak berbentuk ada.

Kalaupun berbentuk ada itu hanya asumsi-asumsi golongan yang mengada-adakan. Terkadang penulis juga ingin mencoba menggunakan skala ricther sebagai metode untuk menghitung gesekan-gesekan di dalam hati, walaupun pemanfaatanya juga tidak jelas untuk apa, lucu kiranya melihat setiap orang pernah merasakan gesekan-gesekan kerak di hatinya dihitung kapan terjadinya, berapa hitungan angkanya, apa efeknya, dan dituliskan di dalam CV untuk melamar pekerjaan, mungkin bisa membantu buat para Hrd untuk menyeleksi lebih objektif.

Atau mungkin malaikat mungkar naqir menggunakan beberapa metode dan salah satu metodenya terdapat seperti skala ritcher yang tercatum di datanya, tapi itu hnya sebuah kemungkinan.

Sebenarnya tulisan ini tidak penting juga untuk dibaca atau bahkan di analisa atau lebih ekstrimnya lagi di aplikasikan. Karena tulisan hanya memproyeksikan perasaan penulis sendiri, ada dan tidak ada tulisan ini hanya menjadi 1 kordior ingatan pembaca, yang setiap koridor terintegrasi dengan sejarah pembaca dibandingkan dengan tidak terhingganya koridor pembaca.

Masyarakat Satria

Satria disini bukan nama produk salah satu motor di Indonesia akan tetapi lebih kepada alam bawah sadar masyarakatnya. Hal yang menarik mengapa menulis ini dikarenakan melihat fenomena-fenomena sosial di Indonesia, dan berita TNI yang diakui di Dunia sebagai tentara terbaik. Di tulisan ini tidak akan menjelaskan TNI, oembaca bjsa mencari sendiri di mbh google, sebenarnya tulisn ini mendeskripsikan mental satria dalam masyarakat indonesia, kenapa bisa begitu? Karena TNI sendiri merekrut dari masjid Indonesia sehingga secara tidak langsung masyarakat Indonesia memiliki potensi mental satria dan TNI mengasah ketajaman tersebut. Kalau menurut fenomena sosial di sekitar kita, mungkin pembaca sering membaca berita tawuran antar SMA, bentrok Suporter dan bentrok antar golongan.

Dari fenomena tersebut jangan diambil negatif bahwa masyarakat Indonesia suka berkelahi bukan begitu, masyarakat Indonesia memiliki energi Hidup lebih banyak bahkan lebih baik dari masyarakat negara lainya, dan faktor solidaritas tinggilah yang membuat sering terjadinya bentrok. Kreatifitas masyarakat di Indonesia juga tinggi, mungkin cuman negara kita yang ada tambal Ban, dan servis gadget swasta, swasta yang dimaksud ialah bukan anak salah satu perusahaan gadget.

Jiwa-jiwa satria ini apabila tidak disalurkan secara positif mungkin masih ada berita-berita bentrok di media. Bukan penulis menjelekkan pemerintah atau negara, akan tetapi dilapangan kebanyakan masyarakat hidup sendiri mencari makan, dengan kebijakan-kebijakan pemerintah yang menurut penulis malah memperibet. Lihat di jalan-jalan saja banyak pedagang kaki lima, tanpa sosialisasi pemeritah masyarakat mencari uang sendiri walaupun terkadang banyak pedagang kaki lima membuat kotor dan macet di jalan.

Penulis sendiri merasakan bagaiaman tidak punya uang tapi masih bisa makan di Indonesia ketika masih kuliah, mungkin sistem bertahan hidup. Masyarakat indonesia sendiri memiliki insting ketika sudah kepepet dan Kreatifitas udah buntu maka akan muncul mamanya ngamok (marah) mungkin amok secara massa bukan individu, kebanyakan itu terjadi ketika kebuntuan dalam mencari makan tapi biasanya itu kalau terpaksa, atau bhs jawa yang pas ialah kebacut.

Kembali ke masalah jiwa satria, coba cari saja tenaga kerja luar negeri terbanyak di dunia, mungkin Indonesia masuk, bukan menjelekan pemerintah tetapi itu menunjukkan bahwa lowongan pekerjaan di Indonesia sedikit atau persyaratan kerja sulit dan tidak seimbangnya antara pendapatan dan pengeluaran.

Di dalam masyarakat indonesia sendiri memiliki laskar-laskar sendiri di setiap golongan, seperti kalau NU GP ansor, Muhammadiyah dengan Tapak suci, belum pelatihan pencak silat, seperti setia hati, tertai, kera sakti. Itu belum semua yang ditulis diatas, dari kalangan mahasiswa mungkin juga ada tapi penulis tidak tau.

Bisa dikatakan Nergara Kesatuan Republik Indonesia pertahananya sangat kuat secara masyarakat ataupun secara TNInya.

Maksud penulis menulis ini ialah menyadarkan pembaca bahwa negara kita sangat kuat apabila dalam mental masyarakat.

Sarjana di Yogyakarta

      Mungkin agak menarik untuk membahas tentang para Sarjana di Yogyakarta, kenapa penulis membahas tentang Sarjan di Yogyakarta? Karena penulis salah satu Sarjana di Yogyakarta, apabila banyak orang mengatakan Yogyakarta adalah tempat para pelajar ada benarnya pernyataan tersebut. Karena menurut penulis sendiri yang sudah pernah hidup sebagai mahasiswa di Yogyakarta selama enam tahun menempuh study S1, yogyakarta adalah batu loncatan untuk lebih memahami tentang ilmu pengatahuan, keanap begitu? Karena di Yogyakarta banyak kampus degan variasi Manusia dari seluruh Indonesia dari suku jawa, hingga suku lain-lainya. Oleh karena itu banyak mengatakan Yogyakarta ialah Indonesia kecil.

     Berbagai aktivitas dari bedah buku, buku indie, music indie, dan kenyataan bahwa penerbit paling banyak terletak di Yogyakarta yang membuat banyak event tentang buku. Sehingga secara sadar atau tidak sadar mahasiswa di Yogyakarta jadi lebih mengenal tentang buku, dari buku paling Kiri hingga buku paling Kanan lengkap di Yogyakarta. Walaupun begitu kenyataanya sekarang di kota Yogyakarta banyak macet di jalan-jalan kota tetapi tidak mengurangi kenikmatan suasana Yogyakarta.

     Setiap tahun datang para maba (Mahasiswa Baru) di Yogyakarta mungkin akan terheran-heran tentang makanan-makanan di Yogyakarta, karena makanan di Yogyakarta identik dengan kata ‘Manis’ sehingga penulis sendiri dari Jawa Timur ada penyesuaian lidah ketika masuk pertama kali di Yogyakarta. Munngkin ketika membaca ini pembaca akan bertanya kampus id Yogyakarta yang bagus apa aja? Menurut penulis sendiri sebenarnya hanya ada dua kampus di Yogyakarta yang menurut penulis sendiri yaitu, UGM (Universitas Gajah Mada) dan UII (Universitas Islam Indonesia) walaupun penulis tidak dari dua kampus tersebut.

     Penulis sudah merangkum baik dan buruk ya Yogyakarta seperti di bawah ini. Dari segi pendidikan Yogyakarta sangat baik sebagai batu loncatan untuk memperoleh ilmu pengetahuan, apabila dari segi penghidupan di  Yogyakarta mungkin agak tidak memuaskan karena UMR yang sedikit dengan mahalya harga tanah di daerah kota yang strategis. Tapi bagi kalian yang memiliki modal berlebih tidak masalah karena Yogyakarta memiliki peluang investasi sangat tinggi, karena tanah di dekat-dekat kampus tiap tahun harganya naik. Tetapi tidak dipungkiri adanya resiko dari gunung Merapi yang tiap waktu dapat meletus.

     Walapun begitu voleme pendatang dan modal setiap tahun meningkat di Yogyakarta, sehingga secara tidak langsung menyebabkan bermuncul Hotel-hotel baru dan Mall-mall baru di Yogyakarta. Apalagi ditambah dengan renaca pembangunan bandara Internasional di Kulon Progo, akan meningkatkan pariwisata dan ekonomi di Yogyakarta. Isu agak sensitif ialah masalah agraria atau tanah di Yogyakarta. Penulis berharap pengembangan ekonomi berbanding lurus dengan budaya di Yogyakarta, sehingga untuk mahasiswa-mahasiswa baru masih bisa menikmati Yogyakarta yang penulis nikmat pada massa study.

Eksistensi Anime

       Beberapa minggu ini penulis menonton suatu karya dari negara Jepang yang bernama anime. Sebenarnya penulis menonton anime sudah lama akan tetapi hanya sebagai hiburan tidak sampai untuk analisa, setelah dipikir-pikir mungkin agak menarik untuk melihat eksistensi Anime. Sebelum masuk kedalam eksistensi anime kita lihat dulu sejarah bagaimana berdirinya anime, penulis sendiri kelahiran 90 an mungkin pembaca 90 an pernah senang lihat Dragonbaal ataupun Captain Subasa. Salah satu yang kita tonton adalah master piece anime dari negara jepang, apabila diamati lebih dalam sebenarnya penganggakatan untuk menjadi anime biasanya dari Manga di Indonesia bernama Komik, walaupun komik bermacam-macam jenis, ada juga penganggkatan dari novel ke anime. Bahkan terkadang ada beberapa anime di buat untuk menganggkat reting pembaca komiknya.

     Apabila kita masuk dalam eksistensi anime, maka tidak jauh-jauh dari fungsi anime sendiri selain media hiburan. Dari beberapa anime setelah di review oleh penulis, hanya ingin menyampaikan ‘ini loh pemikiran saya tentang dunia’ atau ‘harusnya kayak gini’ bahkan ‘saya ingin seperti itu’. Jadi setelah membandingkan alur cerita di dalam anime tidak berbanding lurus dengan realitas nyata di Jepang, sehingga kebanyakan apa yang diceritakan di anime itu hanya keingginan dan tidak berlaku di negara Jepang.

     Bukanya penulis terlalu menegatifkan Jepang, akan tetapi menurut penulit sebuah karya tidak jauh-jauh dari utopia segala, sehingga apa yang diceritakan apa yang di inginkan. Apabila dilihat polan alur cerita anime-anime, kebanyakan tokoh utama seorang sendiri tidak punya teman terus dengan ending punya teman. Apabila dilihat pola alur kebanyakan cerita orang jepang ingin memiliki banyak teman akan tetapi terjadi.

     Tap dalam dunia Internasional Anime sudah memiliki eksitensi didalam setiap penggemar, bahkan mengalahkan cartoon mungkin agak berlebihan. Tetapi pada kenyataanya tiap bulan muncul anime-anime dengan judul baru yang akan siap di konsumsi masarakat dunia. Ini mmasih anime belum lagi manga atau komik.