Keruwetan Diri

             Waktu selalu bergerak walaupun kita diam waktu masih terus bergerak. Walaupun ruang dalam diri tidak bergerak tetapi waktu tetap bergerak. Ketika catatan ini ditulis pun waktu masih bergerak pergerakan waktu memunculkan sebab akibat dari diri. Terkadang sebab ini menjadi keruwetan dan kemandekkan diri yang menyebabkan pergerakan akibat berhenti ya walaupun waktu masih bergerak.

            Sebenarnya ketika menenggok atau melirik atau melototti ataupun cuman melihat keruwetan itu sang pelik. Kenapa pelik karena apabila diambil dari kata keruwetan sendiri dari kata dasar ‘ruwet’ apabila di dalam KBBI (kamus besar bahasa besar indonesia) adalah kusut, kalut, sulit, rumit, bahkan keadaan politik semakin.. Apabila dalam kamus Bausastra (kamus besar bahasa jawa) yang mendekati kata ‘ruwet’ adalah kata ‘ruwed’ yang pengertian angel paniti priksane.  Ruwed dalam bahasa jawa masuk dalam Krama-ngoko, inila yang unik sepertinya kata ‘ruwed’ hanya kata yang hanya digunakan oleh masyarakat umum bukan kata untuk kerjaan karena tidak masuk dalam Krama tetapi krama-ngoko.

             Apabila teman-teman mungkin bertanya darimana data tersebut, teman-teman bisa download saja di playstore dengan kunci pencarian ‘bausastra’. Sedangkan KBBI pun ada di playstore. Setelah mengerti lebih jelas arti dari kata ‘ruwet’. Sebenarnya dalam pikiran penulis sendiri ruwet itu seperti headset yang tidak digulung dengan rapi sehingga ketika mau dipakai terkadang ruwet, terkadang apabila tidak sabar menyebabkan terputusnya kabel headset di dalam sehingga headset tidak bisa dipakai. Sehingga perlu diuraikan dengan sabar dan teliti agar bisa dipakai kembali.

              Sebenarnya tidak ada korelasi yang jelas setiap paragraf diatas. Ya minimal pembaca tau maksud yang apa tulis disini dengan tafsiran masing-masing. Apabila dijelaskan lebih panjang lebar keruwetan akan menjadi kata kerja terus kembali menjadi kata sifat terus kembali menjadi kata kerja. Perputaran terus menerus tentang kata ruwet, sebelumnya meminta maaf apabila beberapa tulisan bersifat Subjektif, karena menurut pedapat saya Ke-Subjektifan perlu untuk memperdalam Ke-Objektifan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s