Fenomena Telolet

                    Tepatnya malam minggu kemarin setelah selesai menonton Macapat Syafaat tepatnya tgl 17 Desember atau malam minggu dan kembali ke Gresik menaiki Salah Satu Bus terkenal perjalanan SBY-Jogja PP. Ketika melewati Madiun beberapa anak-anak kecil merekam Bus  yang lewat, bukan hanya di Madiiun tetapi hingga di Jombang. Setelah beberapa hari setelah meihat fenomena anak kecil merekam menggunakan Handphone, muncul fenomena Tolelot.

              Dalam beberapa hal  yang menggelitik tentang  Fenomena Tolelot, pengaruh sosmed dalam menyebarkan faham kebahagiaan tolelot. Kenapa di sebut faham keabahagiaan Tolelot karena kebanyakan setelah mengetahui faham kebehagiaan tolelot tersebut setiap orang ingin mencoba apakah ada  unsur bahagia dalam menjalakanya. Termasuk penulis sendiri mencoba menjalankan faham kebahagiaan tolelot.

                    Dalam menjalankan faham tersebut  penulis merasakan ada unsur  kesenangan ketika supir Bus menanggapi permintaan tolelot. Mungkin harapan ini yang menyebabkan adanya unsur kebahagiaan menurut penulis. Karena tidak semua Bus memiliki bel tolelot sehingga terkadang penulis berpikir apakah ini tidak memaksakan untuk setiap Bus memiliki Be Tolelot. Hasil lapangan penulis menunjukan kebanyakan Bus baru ada Bel tolelot, sedangkan untuk Bus mini atau lama tidak ada. Apabila dikerucutkan lagi sebagian Bus Baru ternyata juga tidak ada bel Toelot, akan tetapi kebanyakan yang memiliki Bel Tolelot adalah Bus dengan Plat Jawa Timur , dengan Bus Patas yang digunakan untuk pariwisata.

                 Dari Fenomena Tolelot ini pun membuat beberapa DJ terkenal di dunia menanyakan apakah ini? Ketika penulis tela’ah secara mendalam ternyata massa orang Indonesia dalam Medsos banyak dan aktif.  Sehingga untuk mempengaruhi khalayak sosmed luar negeri sangat muda. Oleh sebab itu  terkadang penulis juga berpikir apakah ini termasuk senjata dari rakyat Indonesia yang bermata dua untuk Dunia Innternasional. Kembali ke Fnomena Tolelot adanya faham latah budaya baru mungkin penyakit yang menderita masyarakat Indonesia,  namun tidak dipungkiri dari faham latah budaya baru ini menyebabkan masyarakat Indonesia tidak perlu-perlu mencari hiburan di luar. Tinggal menunggu dan menikmati budaya baru dari sosmed.

Walaupun tulisan ini tidak beberapa penting untuk pembaca, akan tetapi ketidakpentingan akan menjadi penting apabila ada kepentingan.Terimakasih

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s