Kaki – kaki pincang

Aku  berjalan di tengah-tengah kota melihat kiri kanan gedung menjulang tinggi, paku bumi menembus kulit bumi untuk mendirikan bangunan-bangunan yang katanya demi kemajuan peradaban. Semakin aku masuk ke tengah kota, semakin angin menerpa tubuhku.

           Entah emang alam lagi memproduksi angin yang kencang, ataukah karena dampak sari gedung-gedung pencakar langit. Ketika semua mengendarai mobil, motor, dan bus. Berjalan kaki menyadarkan adanya frame baru untuk melihat gerap gempita kota, orang lalu lalang dengan smartphonya sendiri-sendiri apakah ini yang di mau dari peradaban baru ini.

            Berhenti dilampu merah menunggu mobil lewat, setelah hijau berjalan lagi. Berjalan melihat sebelah kiri, mobil motor berhimpitan dengan wajah yang menyatakan kepentinganya masing-masing. Berjalan lagi melihat cafe dan jenis-jenis waralaba yang menjajahkan untuk di konsumsi, dwngan berbagai variasi dan jenis. Spanduk-spanduk iklan-iklan bertempelan di gedung-gedung apkah ini stimulus untuk membuat orang menjadi konsumtif. Konsumtifkah yang di tujuh oleh peradaban baru ini.

          Toko waralaba di lewati akhirnya melewati taman-taman, dibangun di tengah-tengah kota. Kursi yang ditata di samping-samping taman dengan di tengah-tengah ada mainan buat anak-anak. Dari segala golongan datang untuk menghibur diri cuman dengan membayar parkir bis menikmati taman-taman di kota. Penjajah makanan minuman pedagang lima menyediakan untuk para tamu taman. Setelah diamat-amati ternyata taman menjadi pelampiasan kekesalan terhadap derap gempita peradaban. Di taman orang bisa olahraga, bermain dengan keluarga, mengobrol enteng, diskusi yang tidak penting. Semakin mengamati sepetinya taman menjadi obat buat para metropolitan. Yaaah mungkin salah satu alternatif hiburan untu peradaban baru ini.

             Semakin berjalan terasa capek juga. Melihat irang menjajakan minuman aku dekati. “Es teh pak” ucapku. “Oke mas” kata penjual. Setelah selesai membuat es teh, aku tanya “berapa pak?”. “4000 mas” kata penjual. Mengambil uang di dompet dan menyerahkan 4000 rupiah. “Ayo pak” kataku. “Owh nge mas” kata penjual. Kulanjutkan perjalan apakah es teh yang alu beli tersebut adalah benar-benar nilai dari esteh tersebut. Nilai yang di maksud adalah jerih payah penjual dari pagi sampai sore, nilai capek, panasnya, belum dipalak sama pereman. Heeemm pikiranku mulai kemana-mana entah kenapa.

Akhirnya aku simpulkan mungkin peradaban ini memiliki kelemahan kaki-kakinya pincang.

Advertisements
This entry was posted in opini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s