Folklor

Meneliti folklor dikalangan orang beradab (civilized) dan tidak beradab (uncivilized), “illterate in a literate society”, membutuhkan metode khusus. Masyarakat yang kolot, tidak melek huruf, kental dengan budaya lisan perlu disikapi secara arif. Penulis teringat, ada sebuah pertanyaan mengelitik dari ibu-ibu. Dia pemilik folklor. Bahkan termasuk pendukung berat. Katanya sambil berkelakar: “Ngaten kok diteliti, ngge napa ta mas?” pertanyaan tersebut seolah-olah hal seperti ini kok diteliti, untuk apa Mas?

Dua kemungkinan yang bisa dipetik dari pertanyaan ibu itu:

  1. Dia sedang meragukan sebuah penelitian Folklor,
  2. Tengah merefleksikan diri, bahwa yang dilakukan tidak ada apa-apanya,
  3. Ada rasa rendah diri,
  4. yang dilakukan adalah tindakan  yang tidak penting, sepele,
  5. kurang yakin dengan yang dilakukan sendiri.

Saya yakin, masih bisa diulur ke puluhan makna dari pertanyaan ibu-ibu tadi. Hal itu semua, saya alami pada waktu memasuki wilayah folklor. Kecurigaan sementara dalam penelitian Folklor memang sering ada, kecurigaan tersebut terletak pada bagian dari metode penelitian yang harud diatasi. Pertanyaan diatas juga bagian metode yang penting, perlu langkah dan jawaban pasti.

Esensinya, dunia folklor memang masih amat jarang yang teringat. Hanya sebagian saja yang mampu mengingat memori folklor diwaktu kecil. Ketika digendong Ibu, lalu didendangkan folklor, dan (maaf) mengompol. Itu realitas, tapi jarang yang ingat, lebih banyak yang melupakan. Terlupakan.

Meneliti Folklor sungguh indah karena yang diteliti adalah hidup manusia yang indah Pula. Penelitian folklor membutuhkan ketelitian yang luar biasa. Kejelian adalah setengah keberhasilan dalam penellitian. Seorang peneliti perlu memahami setting penelitian yang memadai. Sebelum masuk ke lapangan folklor, patut menjalin kerjasama yang kondusif agar tidak muncul kecurigaan. Hal ini penting bagi peneliti yang menjadi insider , artinya pemilik folklor itu sendiri. Oleh karena itu, bukan mustahil pemilik folklor justru membedakan antara insider dan outsider (orang asing). Mampukah peneliti berdiri ditengah?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s