Review Buku : Kedaulatan Rakyat, Otonomi & Demokrasi

IMG-20170507-00044

Buku yang di tulis oleh wakil presiden pertama Indonesia ini berisi pandangan beliau tentang Kedaulatan Rakyat yang sebenarnya, dan pemberlakuan Otonomi & Demokrasi untuk negara Indonesia. Ada juga berupa keritikan untuk Presiden pertama Indonesia, apabila di bilang relevan atau tidak untuk Indonesia sekarang, menurut penulis relevan mungkin kawan-kawan akan menemukan istilah-istilah baru apabila tidak pernah membaca buku politik. Buku ini termasuk dalam kategori tipis akan tetapi sudah termasuk buku berat apabila untuk memahaminya.

Review Buku : Hidup Sehat dan Seimbang Cara Sufi

IMG-20170430-00031

Penulis Anand Krishna ini menekankan bagaiaman hidup sehat dan seimbang dengan cara Sufi, buku ini berisi metode-metode hidup sehat seperti dengan Yoga, atau puasa yang puasa bisa dikaitkan dengan puasa tidak makan, puasa tidak bicara dsb. Melatih pernafasan juga masuk dalam buku, melatih keselarasan dan banyak idiom lainya di buku ini. Beberapa menceritakan Sufi dari India dan Pakistan, mungkin untuk teman-teman mencari deskripsi tentang Sufi membaca buku ini bisa membantu.

Sunyi

Gelombang waktu menerpa tubuh ini dengan membawa kenangan-kenangan lama yang terkadang mempercepat alunan kerja tubuh sehingga mengikis semangat hidup dan menciptakan Sunyi. Setiap mahluk akan menyadari bahwa Sunyi ialah bagian dari rasa yang terkadang akan membuat efek ketentraman atau kekacauan pikiran, tetapi akhir dari mahluk ialah Sunyi. Peran sunyi dalam hidup sudah menjadi setiap gerak langkah atau bisa tuliskan seperti ‘setiap mahluk hidup akan mati sendiri dan mengurus kehidupanya sendri’ penekanan sendiri ini yang memotivasi untuk selalu bergerak, terkadang di temani sepi sehingga menciptakan Sunyi. Walaupun begitu itu hanyalah sebuah momentum kehidupan yang seperti bola, tetapi itu puncak dari semua mahluk hidup.

Apabila orang tua dulu melewati sunyi untuk menggapai momentum Doa yang menyertai anak cucu ataupun bisa dikatakan keturunanya, ketika momentum itu tercapai kedamaian akan menyertai orang tua dulu, apabila dilihat dari orang moderen sekarang seperti hal yang ‘muspro’ (percuma). Mungkin orang modern momentum Doa bisa diganti dengan asuransi untuk anak-anak entah tentang pendidikan ataupun kesehatan yang ditebus oleh Uang atau Materi. Sedangakn orang tua dulu melalukan tarekat bukan dengan Materi, atau bisa dikatakan momentum Doa dengan berbagai metode.

Pernah diceritakan oleh orang tua-tua di kampung bahwa ketika seseorang dulu ini mengiginkan sesuatu seperti selama menikah tidak dikauniai anak, Orang Tua terdahulu akan melakukan tarekat atau berdoa terus menerus tanpa henti di tempat-tempat sunyi dan tenang untuk mendapatkan momentum Doa, sehingga Doa itu di ijabai. Sedangkan untuk orang modern akan ke klinik-klinik kelahiran menggunakan ilmu modern untuk menemukan solusi supaya memiliki keturunan. Mungkin menguasai intuisi adalah metode yang digunakan oleh orang terdahulu untuk mencapai harapan, sedangkan untuk orang modern akan menggunakan ilmu-ilmu terkini dan memiliki bukti nyata.

Review Buku : Misteri Soliter

IMG_20170419_234454

Buku yang ditulis oleh Jostien Gaarder, dari sumber buku aslinya yaitu The Solitaire Mystery ini menceritakan tentang seorang anak yang menemukan jati dirinya melalu tafsir soliter yang di peroleh setelah membaca buku mungil. Seperti buku biasanya yang di tulis oleh Jostien Gaarder hobi menyusupkan pandangan-pandangan dan deskripsi-deskripsikan tentang filsafat. Mungkin setelah membaca buku ini kawan-kawan akan tertarik tentang Filsafat. Buku ini apabila dibaca secara intens 3 hari sudah selesai.

Review Buku: Melawan Melalui Lelucon

IMG_20170418_082121

Buku ini berisi tentang kumpulan kolom Almarhum Abdurrahman Wahid di koran Tempo, yang di terbitkan pada tahun 1980-1999 dan dibedakan menurut temanya masing. Cetakan tahun 2000, apabila dikatakan relevan atau tidak untuk era sekarang menurut saya lumayan relevan apalagi kolom tersebut adalah kolom dari Guru Bangsa yaitu Gus Dur. Gaya penulisan yang memang khas Gus Dur, dengan guyonanya di awal tulisan dan diakhiri dengan keseriusan ide-ide menyelesaiakan masalah pada eranya. Juga terdapat kritikan-kiritikan membangun pada eranya, dengan suasana orba. Jadi apabila membaca tulisan pada kolom-kolom gusdur ini pembaca juga harus mengerti situasi pada saat tulisan itu di terbitkan, sehingga mungkin pembaca secara tidak langsung belajar sejarah pada buku ini. Untuk mencari buku ini agak susah, karena belum ada cetakan selanjutnya tetapi kawan-kawan bisa mencari di google saja mungkin ada yang menjualnya.

Dolan Ke Yogyakarta

     Sebelum saya menceritakan perjalanan dolan ke Jogja ada baiknya akan menjelaskan kronologi bisanya ke Jogja. Sebenarnya penulis sendiri kuliah di Jogja selama 5 1/2 tahun, dan itu tidak bisa dikatakan dolan ke Jogja, karena itu kuliah dengan niatan pariwisata, beda dengan dolan.

       Kronologi bisanya orang yang pernah hidup di Jogja terus dolan ke Jogja itu seperti ini. Setelah balik ke kampung halaman beberapa minggu, beberapa teman smp mengajak dolan Jogja. Setelah saya tanya-tanya kenapa ke Jogja, ealah karena belum pernah kesana, berhubung saya memiliki rasa tidak tegaan dengan teman sendiri saya iya tapi sebelum iya saya tanya, biaya ya berapa 500 k, ok saya tidak bisa. Pertama saya sudah lama di Jogja dengan estimasi biaya segede itu dan bertemu Jogja lagi hmmm, kedua masih menjadi pengacara (pengangguran banyak acara) jadi untuk uang masih nebeng dengan orang tua. Akhirnya saya tolak halus dengan alasan urusan keluarga, akhrinya h- berapa dihubungi teman smp lagi katanya tidak usah ikut nyumbang biaya transport, dan teman smp minta tolong sangat untuk akses jalan wisata Jogja dan akses tidur di kontrakan teman akhirnya saya iyakan.

         Perjalan malam pada hari 14 april 2017  Jum’at dari Gresik menggunakan Mobile xenia plat L pukul 22.00 dengan kecepatan kilat sampai di magelang tepatnya di Gunung Pring hari 15 april 2017 sabtu pukul 04.00. Sebenarnya sampai di Gunung Pring kara inisitif dari penulis sendiri karena candi Borodubur eh candi Borobudur belum buka, jadi di Gunung Pring untuk transit capek. Niatnya tidak transit kesana tapi ke Puthuk Stumbu, akan tetapi akses kesana dengan menggunakan mobil bisa, cuman perjalanan sampai ke puncak dengan jalan kaki. Akhirnya ngeper juga dan ke Gunung Pring, sekalian ziarah sampai disana dan rame tidak jadi ziarah hanya makan, tidur.

        Setelah melepas lelah beberapa jam, berangkat lagi ke Borobudur dan sampai disana pukul 08.00. Membeli tiket masuk sebesar 30 k perkepala, masuk ke Borobudur dengan berjalan kaki dengan bentang luas hektaran. Setelah memasuki kawasan candi, akhirnya di sepekati untuk memutari 1 kali setelah itu naik level ke berikutnya. Putaran pertama paling bawah masih kuat, setelah naik ke level ke 2, di sepekati untuk menghitung patung perempuan yang masih ada pentilnya (puting payudara) bukan bermaksud penulis mesum atau gimana karena sangat efektif untuk melupakan lelah. Setelah disepekati akhirnya berjalan dan mendapatkan 29 pentil pada patung perempuan di level 2, untuk tenaga lumayan capek. Naik ke level 3 kesepakatan untuk menghitung gajah, setelah satu putaran di temukan dengan jumlah 29 gajah, di situ penulis agak bingung kok bisa-bisanya sama, akhirnya lupa sambil lalu saja, untuk tenaga sudah berkeringat deras. Naik ke level 4 beberapa teman sudah sambat tidak kuat untuk berputar lagi, apalagi dengan volume pengunjung banyak dengan wilayah putaran semakin sempit, diputuskan untuk langsung saja ke level paling tinggi entah itu level berapa penulis tidak menghitung dan untuk apa menghitung.

       Sampai di puncak level, banyak bule dan kimcil berserakan dimana-mana. Berputar-putar di emperan, akhirnya berhenti sebentar untuk sendekan dengan asosiasi tempatnya banyak kimcil dan tante-tante manis atas inisitif teman smp. Melihat beberapa view lumayan indah entah pemandangan atau manusia, setelah itu turun dan berjalan ke Mobil. Belum sampai di Mobil tetapi di tempat pembelajaan Borobudur, salah satu teman smp banyak titipan sehingga lama disana. Ingat di rumah tidak ada ulegkan yang besaar akhirnya beli ulegkan (cowek bukan cewek ya) di situ perdebatan atau enyang-enyangan dari harga 45 sampai menjadi 25. Di situ saya tidak enak hati, karena teman saya mengatakan harga 20 itu sudah dapat, tetapi karena tidak enak hati akhirnya dapat dengan harga 25, sepertinya penulis tidak bakat untuk mengenyang. Di perjalanan saya di paido sama teman-teman karena dengan membeli cowek dengan harga 25. Teman-teman sendiri sudah mendapatkan apa yang di inginkan, kurang satu yaitu salak. Sampai ke mobil berjalan lagi mencari salak di pinggir-pinggir jalan, mendapatkan tempat pertama sudah mencoba beberapa salah dan enyan-enyangan tidak cocok dengan harganya penulis sendiri sudah lupa berapa selisihnya yang pasti tidak lebih 10k. Cari tempat yang lainya di tempat kedua, banyak variasi toko sehingga bisa kemungkinan untuk harga yang cocok.

              Setelah mendapat valak eh salak pondoh 10 kg, salah satu teman ingin salah 1 kg, akhirnya mendapatkan dan lanjut ke taman sari sampai di tempatnya siang hari. Di taman sari berputar-putar mencari tempat spot foto, di Taman Sari juga berserakan kimcil dan tante-tante, biaya masuk 10k kurang perkepala. Selama 5 1/2 tahun di Jogja tidak pernah masuk ke taman sari dan baru pertama kali. Baru tau dari mak-mak angkringan bahwa luas Taman Sari 10 hektar, rupanya wisata di Jogja tidak jauh-jauh dari jalan kaki dan olahraga.

            Skip akhirnya ke Malioboro, juga sama jalan kaki dari Masjid Gedhe ke statiun malioboro dan balik lagi ke parikiran mobil hingga salah satu teman kakinya lecet.

           Skip tidur ke kontrakan teman. Paginya langsung ke gunung kidul bermain di pantainya, berangkat pukul 03.15 dini hari sampai di sana setelah subuh, penulis tidak ikut jalan-jalan karena sudah ngantuk sangat, karena malamnya diajak ngopi hingga berangkat ke gunung kidul. Biaya masuk perkepala 10 k, parkir harga tergantung kebijakan tukang parkir. Bermain di dua pantai dan langsung cuss ke Gresik, balik siang hari sampai di Gresik 22.15. 9 jam perjalananlah baru sampai di Gresik.

Ada baiknya penulis memberikan tips untuk teman-teman apabila main ke Jogja.

  1. Sebelum berangkat sediakan dana.
  2. Sebisanya sampai di tempat wisata jangan di jam ramai, kalau bisa pagi hari kalau tidak malam sekalian, dan kalau bisa jangan week end panjang.
  3. Sediakan sempak yang banyak
  4. Gunakan sepatu, karena kebanyakan wisata di Jogja berjalan kaki, jadi kalau menggunakan sandal kemungkinan lecet.
  5. Bawa satu botol air mineral apabila sampai di tempat wisata, selain irit biaya juga untuk mencari air minum di tempat-tempat candi agak susah.

6. Sebisanya bawa banyak orang dan beberapa teman perempuan.

Manusia postmodern

Di bumi ini ada dua benda

Satu dikatakan benda mati

Satu lagi di katakan benda hidup

Benda hidup dikatakan ada tiga

Satu dinamai tumbuhan

Satunya dinamai hewan

Satunyalagi dinamai manusia

Dua benda hidup sebelum manusia

Hanya bisa hidup

Manusia bukan hanya hidup

Manusia juga bisa menghidupkan

Seperti puisi ini ditulis oleh manusia

Tetapi manusia terlalu naif

Sehingga suka mengatakan dan membedakan

Seperti diatas tadi

Jadi manusia  postmodern

Suka mengatakan dan membedakan

Tidak penting sekali

Menurut puisi ini

 

Wassalam