Review Buku : Muslim Tanpa Masjid

IMG_20170826_131644

               Kuntowijoyo ini menulis buku ini ketika era peralihan orde baru ke reformasi, sehingga konteks esai-esai nya era itu. Esai-esai tersebut juga bertulisan tentang ICMI dan bagaimana umat islam menghadapi era modern. Di buku tersebut juga ada beberapa kritik tentang puritam, dan umat islam menghadapi pasca Industrialisasi. Buku ini cocok bagi kalian menggali data tentang ICMI, puritan,dan beberapa hipotesis tentang umat muslim pasca Industri.

Advertisements

Merayakan Kemerdekaan

                 Sudah sekian bulan penulis bel menulis di Blog ini, dikarenakan kesibukan setelah lulus kuliah. Kebetulan sekali bertepatan dengan agustus sehingga penulis menggunakan tema Kemerdekaan, sekalian untuk mempringati hari kemerdekaan Indonesia ke 72 tahun. Prolog yang tepat ketika menggunakan tema Kemerdekaan ialah, sekarang hitung umur mas-mas se dan mbk-mbk e sekaranag umur berapa? Setelah mengetahui umur mas-mas se dan mbk-mbk e dikurangi 72 tahun Indonesia merdeka.

                 Hasil dari hitungan tersebut adalah tahun terjadi proses kemerdekaan sebelum mas-mas dan mbk-mbk e. Sekarang bayangkan umur rata-rata seorang hidup itu berapa tahun, dan kurangi tahun yang di dapat dari hasil tadi. Setelah dapat itulah generasi Indonesai Merdeka. penulis sendiri setelah menghitung – hitung menggunakan prolog diatas, penulis adalah generasi belum genap ke 2, yang dimaksud belum genap ke- 2 ialah dikarenakan generasi pertama seluruhnya belum meninggal apabila menggunakan teori umur manusia hidup 62 tahun kalau masih hidup itu bonus.

                 Jadi secara negara Indonesia belum memasuki muda mungkin bisa dikatakan mungkin proses ke muda. Sehingga kematangan kebudayaan Indonesia belum sekuat negara-negara yang melewati beberapa generasi, sehingga kebudayaan lokal masih kuat di setiap wilayah. Mungkin pembaca agak bingung hubungan merayakan kemerdekaan dengan budaya lokal itu apa? Budaya adalah sesuatu yang bersifat dinamis dan menyesuaikan keadaan suatu masyarakat entah itu dipengaruhi mitos, UUD, kebijakan publik. Jadi produk kebudayaan kita untuk merayakan kemerdekaan Indonesia biasanya adalah mengadakan lomba-lomba di kampung, institusi -institusi, mengingat-mengingat kembali pahlawan yang berjasa memerdekakan Indonesia, dan pastinya mengibarkan bendera Indonesia untuk jasa Pahlawan- pahlawan yang mendahului kita sebelumnya.

                Apakah produk kebudayaan mengadakan lomba-lomba ialah produk dari negara atau produk budaya lokal yang menyesuaikan dan mengadaptasinya menjadi lomba-lomba. Yang pastinya semua kegiatan merupakan cara paling efektif dan membuat guyub rukun kampung, menumbuhkan Jiwa rivalitas dan daya juang tinggi menurut penulis. Ada baiknya generasi ke – 2 ini menggunakan daya juang, daya adaptasi, dan daya pikir untuk jangka panjang Negara Kesatuan Republik Indonesia ini, karena akan tibanya generasi pertama tidak ada dan akan melimpahkan ke generasi ke -2 sehingga perlu kiranya siap-siap untuk jangka panjangnya.

Karena menurut penulis membuat itu mudah tetapi mempertahankan itu susah, khususon kangge pahlawan NKRI Al-fatiha, Merdeka!!!

Review Buku : Kedaulatan Rakyat, Otonomi & Demokrasi

IMG-20170507-00044

Buku yang di tulis oleh wakil presiden pertama Indonesia ini berisi pandangan beliau tentang Kedaulatan Rakyat yang sebenarnya, dan pemberlakuan Otonomi & Demokrasi untuk negara Indonesia. Ada juga berupa keritikan untuk Presiden pertama Indonesia, apabila di bilang relevan atau tidak untuk Indonesia sekarang, menurut penulis relevan mungkin kawan-kawan akan menemukan istilah-istilah baru apabila tidak pernah membaca buku politik. Buku ini termasuk dalam kategori tipis akan tetapi sudah termasuk buku berat apabila untuk memahaminya.

Review Buku : Hidup Sehat dan Seimbang Cara Sufi

IMG-20170430-00031

Penulis Anand Krishna ini menekankan bagaiaman hidup sehat dan seimbang dengan cara Sufi, buku ini berisi metode-metode hidup sehat seperti dengan Yoga, atau puasa yang puasa bisa dikaitkan dengan puasa tidak makan, puasa tidak bicara dsb. Melatih pernafasan juga masuk dalam buku, melatih keselarasan dan banyak idiom lainya di buku ini. Beberapa menceritakan Sufi dari India dan Pakistan, mungkin untuk teman-teman mencari deskripsi tentang Sufi membaca buku ini bisa membantu.

Sunyi

Gelombang waktu menerpa tubuh ini dengan membawa kenangan-kenangan lama yang terkadang mempercepat alunan kerja tubuh sehingga mengikis semangat hidup dan menciptakan Sunyi. Setiap mahluk akan menyadari bahwa Sunyi ialah bagian dari rasa yang terkadang akan membuat efek ketentraman atau kekacauan pikiran, tetapi akhir dari mahluk ialah Sunyi. Peran sunyi dalam hidup sudah menjadi setiap gerak langkah atau bisa tuliskan seperti ‘setiap mahluk hidup akan mati sendiri dan mengurus kehidupanya sendri’ penekanan sendiri ini yang memotivasi untuk selalu bergerak, terkadang di temani sepi sehingga menciptakan Sunyi. Walaupun begitu itu hanyalah sebuah momentum kehidupan yang seperti bola, tetapi itu puncak dari semua mahluk hidup.

Apabila orang tua dulu melewati sunyi untuk menggapai momentum Doa yang menyertai anak cucu ataupun bisa dikatakan keturunanya, ketika momentum itu tercapai kedamaian akan menyertai orang tua dulu, apabila dilihat dari orang moderen sekarang seperti hal yang ‘muspro’ (percuma). Mungkin orang modern momentum Doa bisa diganti dengan asuransi untuk anak-anak entah tentang pendidikan ataupun kesehatan yang ditebus oleh Uang atau Materi. Sedangakn orang tua dulu melalukan tarekat bukan dengan Materi, atau bisa dikatakan momentum Doa dengan berbagai metode.

Pernah diceritakan oleh orang tua-tua di kampung bahwa ketika seseorang dulu ini mengiginkan sesuatu seperti selama menikah tidak dikauniai anak, Orang Tua terdahulu akan melakukan tarekat atau berdoa terus menerus tanpa henti di tempat-tempat sunyi dan tenang untuk mendapatkan momentum Doa, sehingga Doa itu di ijabai. Sedangkan untuk orang modern akan ke klinik-klinik kelahiran menggunakan ilmu modern untuk menemukan solusi supaya memiliki keturunan. Mungkin menguasai intuisi adalah metode yang digunakan oleh orang terdahulu untuk mencapai harapan, sedangkan untuk orang modern akan menggunakan ilmu-ilmu terkini dan memiliki bukti nyata.